Selasa, 31 Juli 2007

Peran Swasta untuk Dukung Akar Rumput

Jakarta, Kompas - Dari sekian banyak perusahaan nasional, hanya lima atau enam perusahaan yang mau mensponsori kegiatan olahraga. Itu pun umumnya perusahaan rokok. Adapun perusahaan di daerah tempat kegiatan itu berlangsung enggan terlibat.

Demikian penjelasan Wakil Presiden Asosiasi Pemasaran Indonesia Fritz E Simandjuntak pada Asian Forum on Sport Innovation di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (30/7).

Menurut Simandjuntak, sebagai bagian dari program corporate social responsibility (CSR), perusahaan hendaknya turut serta mendukung pembinaan dan pengembangan olahraga di tingkat akar rumput, terutama di daerah sekitar perusahaan tersebut.

Pembinaan di tingkat bawah itu bukan hanya menyediakan bibit atlet, tetapi juga upaya meningkatkan kesehatan masyarakat yang ujungnya memperbaiki kualitas kehidupan.

"Olahraga di Indonesia itu sangat bergantung pada sponsor. Tanpa ada sponsor yang kuat, olahraga sulit meningkat prestasinya," katanya.

Dia menambahkan, selain sulit menggaet sponsor, prestasi olahraga Indonesia pun sulit meningkat. Faktor-faktor penyebab terhambatnya prestasi tersebut antara lain seorang pelatih jarang sekali mendapat kesempatan menambah ilmu di luar negeri. Selain itu, hampir tak ada penerapan sains olahraga dan kesehatan serta tiadanya manajemen olahraga yang profesional.

"Pengurus olahraga dari tahun ke tahun tidak pernah bisa bekerja penuh. Mereka selalu paruh waktu, dan itu senantiasa berulang," ujar Simandjuntak.

Terakhir, kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang tidak mendukung olahraga. Apalagi, kini anak-anak muda lebih suka memilih karier di dunia keartisan ketimbang menekuni olahraga.

Dez Corkhill yang merupakan Direktur Berita ESPN Star Sports menjelaskan, sebagai pelaksana kegiatan olahraga, penyelenggara sudah selayaknya berpikir pula dari sisi sponsor dan televisi. Artinya, tugasnya bukan hanya menyediakan materi, tetapi juga memikirkan keuntungan apa yang akan didapat sponsor dan stasiun televisi tempat kegiatan olahraga itu ditayangkan.

"Pertama, buat produk yang bagus. Kedua, selalu menyediakan kebutuhan media seperti materi siaran dan tulisan setiap hari. Tidak melulu pertandingan, tetapi juga apa saja yang terjadi di luar lapangan. Misalnya, sisi atlet dan penonton. Saya yakin, kalau tiap hari dicekoki terus-menerus, televisi pasti menayangkan. Kalau sudah tayang, itu bisa jadi bahan untuk mencari dukungan sponsor," katanya.

Enggan peras keringat

David Winiger, Asisten Khusus dari Penasihat Khusus Sekjen PBB Bidang Olahraga untuk Pembangunan dan Perdamaian Adolf Ogi, mengatakan, sikap mental anak-anak dan kalangan remaja saat ini yang enggan memeras keringat untuk olah tubuh harus diubah.

"Olahraga membantu mereka mengenal diri sendiri. Tanpa mengetahui kekuatan dirinya, akan sulit untuk mempertahankan diri dari stereotip yang ada. Jika pandangan sudah stereotip, yang muncul adalah diskriminasi, terutama jender," kata Winiger.

Sementara Direktur Media dan Komunikasi Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Clare Kenny Tipton menjelaskan, untuk memajukan sepak bola Asia, secara teori sulit. "Tidak seperti di Eropa yang sarat bintang dan kompetisinya bagus. Maka, supaya maju, kompetisi sepak bola Asia mutlak harus profesional," ujarnya. (TIA)

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/31/or/3730054.htm

 

 

BACK